Friday, August 9, 2013

Aku dan Ambon (Part I: Intro)

Mmmmhh...  *tarik napas panjang*

Kayaknya ini bakalan jadi cerita ter-melow yang pernah saya tulis. Bahkan mau mulai darimana saya bingung. Seperti judulnya, saya punya ikatan batin yang kuat dengan kota di ufuk timur Indonesia itu. Hometown kedua setelah kota kelahiran saya. Mungkin saya awali dengan bagaimana saya bisa terdampar disana.

Tahun 2009 silam (kesannya mistis banget yak..hahaha), untuk pertama kalinya setelah lulus kuliah, saya mencoba peruntungan seperti orang2 kebanyakan. Ikut seleksi CPNS. Sebenernya saya paling males ikut seleksi CPNS, udah ribet, banyak yang diurus, saingannya buanyakkkk plus rumor sogokan yang nilainya amit2. Saya paling anti deh ama begituan. Mau kerja dapet duit kok malah keluar duit. Stupid!
Singkat cerita, saya bersama beberapa sahabat saya adu untung. Banyak banget yang membuka pendaftaran waktu itu. Mulai dari tingkat kementerian, pemprov sampai pemkot/pemkab. Nah, mungkin dasar udah takdir dan jodoh. Ada salah satu kementerian yang syaratnya lebih sistematis dari yang lain. Berhubung formasi untuk sarjana pangan seperti saya juga tersedia, kupinanglah dia. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. :)

Setelah melewati beberapa tahap seleksi yang bikin deg-deg an, di hasil akhir, muncul nama saya. Petronela Stefannie, Peneliti Pertama, Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon (Baristand Ambon). Saya LOLOS!!! Papa Mama saya yang notabene juga PNS, seneng bukan kepalang. Tapi... Kok Ambon? Jauh amaaat... Aman gak?? Kan kan kan kan...baru kerusuhan juga. Tapi dasar saya orangnya nekat, bodo amat. Saya percaya itu berkat! Jadinya, BERANGKAT!

Berbekal tekad, niat tulus anak bangsa yang ingin membangun negeri plus hati yang hancur berkeping2, saya berangkat. :) (Asli pingin nangis pas ngetik ini....that was sad and happy moment at once). Saya berangkat pas saya baru diputusin mantan pacar saya setelah beberapa tahun kami pacaran. Penting ya bagian ini? PENTING!!! Tolong dicatat!!  Hahaha... Berangkat meninggalkan rumah yang sudah saya tinggali hampir seperempat abad, meninggalkan teman dan sahabat, meninggalkan warung2 lalapan favorit saya.

Anak bawang, belum pernah merantau, nekad ke pulau seberang. Alasan saya simpel. I had a feeling that I would love this job. Dan saya pingin membuktikan ke diri saya sendiri, bahwa PNS tidak hanya soal ke kantor terus duduk2 dan baca koran, jam makan siang keluyuran di pasar atau mall. PNS bukan cuma suka nutut kenaikan gaji dan tunjangan, tapi juga tulus ingin mengabdi untuk negeri ini. Saya pingin jadi PNS yang kata Syahrini: SESUATU!

Di hari pertama saya menginjak kaki di kantor Baristand, beberapa menyangsikan kalau saya bisa krasan. Bahkan sang pimpinan pun mewanti, jangan2 saya minta dimutasi di Ambon. Hahaha... Udah feeling kali ya.. :P

Click here for Part 2
Click here for Part 3

Sunday, August 4, 2013

Our Big Day: Wedding Day!

Been a long time I wanted to make a short video of our wedding! Sebenernya, karena males ajah sih plus udah lupa utak atik gimana cara bikin videonya. Hehehe.. Tapi karena weekend ini kami (saya sama Parjo) mengagendakan untuk di rumah saja. Jadi, iseng2 mulai bikin lah saya. :)
Di post-post sebelumnya, saya sudah cerita bagaimana suka duka proses pengesahan hubungan saya dengan si Parjo. Kali ini saya mau berbagi cerita, how exactly the big day was.

Hari itu, spring has just started. Udara sedikit menghangat setelah musim dingin berakhir lebih telat dari seharusnya. Selasa pagi, 14 Mei 2013. :)

Setelah malam sebelumnya, saya harus pasang belasan rol di rambut saya, pagi-pagi buta saya bangun. Seperti biasa, saya masih sempet sarapan ala londo: pisang, yogurt dan muesli. Mandi. Nggosok bolot2 sampe bersih, maklum, ini kan even sekali seumur hidup! Jadi harus bersih dan wangi! Hehehe... Setelah itu, mulailah saya duduk di depan meja rias mini. Mmmm, bukan meja rias sih, tapi saya pake itu untuk naruh modal2 saya tampil cantik. Saya mulai memoles wajah saya. Kata temen-temen saya, hasil riasan saya boleh juga. Bahkan dulu waktu kuliah, saya pernah dimintain tolong sahabat saya untuk merias dan me-nyanggul rambutnya di hari wisuda! Dan hasilnya, dia dapet banyak pujian loh. Hehehe... "Bakat" ini saya dapet waktu dulu saya masih rajin ngeband atau ng-MC, daripada bayar mahal ke salon, saya belajar sendiri menggunakan make-up sebelum manggung. So, bahkan di hari paling spesial di hidup saya, saya lebih percaya tangan berbakat saya dibanding salon mahal sekalipun.

Jadilah, saya make-up sendiri! Termasuk mengutak atik rambut panjang saya. Untungnya saya punya asisten. Siapa? Ya Parjo lah! Siapa lagi... Hahaha..

Setelah kurang lebih 2 jam terpaku di depan cermin. Selesai! Paling lama cuma pasang bulu mata palsu! I hate!!! Hahaha... Setelah itu, saya ambil "gaun" yang sudah menggantung di lemari. Saya bawa dari Malang. Dress silver dengan sedikit aksen brokat di pinggirnya2 saya pilih untuk hari istimewa. Dressnya ngga mahal, saya beli sendiri bahannya di pasar. Bukan bahan yang termahal tapi cukup istimewa kualitasnya. Ongkos jahitnya pun cuma 100 ribu. :)

Setelah siap, kami, saya dan Parjo berangkat. Dengan mobil kesayangan, Parjo masuk ke bangku sopir dan saya di sebelahnya. Eitsss! Surely, he didn't forget to kiss my forehead and he whispered on my ear "I love you". And we drove.

Well, sejak kecil saya tidak punya dream wedding, seperti yang mungkin selalu diidamkan oleh setiap gadis muda. Long white wedding gawn, a lot of flowers, big classic church or in the beach, hundreds baloons, super sweet pre-wedding photos. Sounds naif but true, I never wanted that. I always dreamed, when I ever married, it should be very simple, only with family and not so many stuffs to prepare. And it seemed, my dream came true. :)

No make-up from bridal salon, no millions wedding gawn or kebaya, no photographer, no wedding car. Not at all. It was my day. Our day. So we made and handled all by ourselves. I did the make-up by myself, Parjo drove our "wedding car", my mother in law was the photographer, my mom was the "wedding gawn" designer. ALL by ourselves. :)

But... that day was one of the best days in my whole life. We finally did it. It turned out so well. All families were here. I had my dream wedding indeed! As you all can see in this little sweet video.
Everybody has their own way to catch their happiness. And I have my own. 


Friday, August 2, 2013

Veggie Spaghetti

Nah! Hihihi.. lagi-lagi update resep masakan. Sebenarnya ga pede juga sih mau posting resep2 gitu. habisnya lebih buanyaaakkk blog yang lebih oke dalam mengupas tuntas resep dari A sampai Z. Tapi, karena ada permintaan dari temen lama atas beberapa masakan saya, jadinya saya tulis juga deh disini. Itung2 buat dokumentasi saya juga, mengingat saya ini chef gadungan yang tiap kali masak hampir selalu pake ilmu perasaan. Hahaha.. semua dikira2 semau saya! But I'm happy cause it always comes out yummy! Si Parjo saksinya!

Oke, kali ini saya berbagi resep idola saya. Spaghetti!! Selain gampang, cepet prosesnya dan sehat! Mungkin saya sudah pernah bilang, Si Parjo ini kurang suka daging2an dan lebih suka sayuran. Kayak kambing! Hush!! So, saya seringnya masak apapun ya selalu sayur. Hehehe.. Dan kali ini adalah Veggie Spaghetti. Gampang kok!


(porsi 2-3 orang)
Bahan I:
100 gram spaghetti
1 liter air
2 sdm minyak sayur
garam secukupnya

Bahan II:
1 buah paprika merah (potong dadu)
1 buah wortel (potong dadu)
1 buah zuchinni (potong dadu)
1 buah jagung (serut/pipil)
1 buah tomat segar (potong dadu)
2 siung bawang putih
1 buah bawang bombay ukuran sedang
3 sdm saus tomat
50 ml susu segar
1/2 sdt basil
1/2 sdt oregano
2 sdm keju parmesan
garam secukupnya
merica secukupnya
minyak untuk menumis

Cara membuat:
1. Didihkan air dan rebus pasta, tapi jangan sampai ter-gelatinisasi sempurna (yang anak foodtech pasti tau istilah ini. Hehehe... Itu maksudnya, ojok sampe mblothong! Hahaha... Taburi garam. Tiriskan dan tuang minyak sayur lalu aduk sebentar. Minyak sayur fungsinya supaya tidak lengket2.
2. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum. Masukan semua sayuran (paprika, wortel, zuchinni dan jagung). Aduk sebentar sampai sayuran agak layu. Setelah itu berturut2, tambahkan saus tomat, garam, merica, basil dan oregano. Aduk rata, masukkan potongan tomat segar. Kemudian tambahkan susu dan keju parmesan.Terakhir masukkan pasta spaghetti yang sudah ditiriskan tadi.
3. Siap disajikan.

Catatan kecil:
Sayuran boleh dipilih sesuai selera, boleh juga loh pakai bayam! Saya pernah coba dan hasilnya maknyus! Kalau susah dapet zuchinni, boleh di-skip dan diganti dengan yang lain. Nah, pengalaman waktu di kampung halaman, oregano dan basil jarang banget dipake masak. Masakan Indonesia jarang pake kedua barang tersebut. Nah, saya ada tips nih, beli aja saus bolognese yang botolan, jadi ga perlu pake lagi basil dan oregano. Kalau pake saus botol ini, boleh 4-5 sdm ditambahkan.

Happy trying!

"Phillipine? No! Spain? No! Mexico? No! But INDONESIA"

Pagi2 sepulang dari hutan, bukan berburu ye, tapi lari pagi di hutan deket rumah nih, saya dapet telp dari Si Ratu (mamahnya Si Parjo), cuma singkat aja, ngingetin kalo hari ini ada janji ke dokter gigi. Dan dibilang akan dijemput jam 10.35. Huahahaha... Mukeee gileee! Nanggung amat pake ada "5"-nya segala. Ya iyalah! Jerman getooo.. Itungannya menit mennnn.. Germans are very punctual!! Saya banget tuh! Saya bukan orang Jerman, tapi dari dulu emang benci banget ama budaya nelat orang2 di negeri dongeng.

Well, back to topic! Jadi ceritanya, hari ini saya ke dokter, dijemput si ibu mertua naik delman istimewa ku duduk dimuka, PAS jam 10.35. Gak kurang, gak lebih! Dokternya ga jauh, 10 menit lah dari rumah naik mobil (cieeeeee mobillll, orang biasa naik angkot juga...belagu!). Ini kali kedua, saya nge-date ama si dokter ini. Nyantai, dokternya udah tuwir, jadi ga bisa digebet dah. Singkat cerita, gigi saya yang sudah sehat dan putih bersih ini diperiksa. Eh, jiambulll, ternyata ada satu lubang kecil di gigi geraham belakang. Seumur2 baru kali ini gigi saya lubang. Akhirnya, dilakukanlah proses penembelan. Setelah 15 menit. Selesai!.

Sebelum keluar ruang periksa, kami basa basi. Modal bahasa jerman lumayan yang cenderung pas2an, saya ajak ngobrol deh tuh dokter. Kebawa nih kebiasaan di Indo, Basa Basi. Sampai akhirnya si dokter nanya, "Woher kommen Sie?" yang artinya "Kowe iki asli ndi to nduk??". Belum sempet saya njawab, di dokter udah nyela aja, "Mexico?". Mukeee gileee! Hahahaha... Asli pingin ngakak. Baru kali ini deh, dikira orang Meksiko. Tapi honestly, dalam hati saya Ge-er Ge-er gimanaaaaa gituuu.. Secara yang terbayang wajahnya Thalia si Maria Mercedes  itu. Gilak!!! Cakep plus bahenolll kan! Wah, kuterima dengan segenap kerendahan hati and I took it as a big big compliment!

Nah, tadi saya bilang, "baru kali ini dikira orang Meksiko", lah memang sebelumnya dikira orang mana? Orang utan? Itu mah ledekan temen2 badung saya dulu. Hahaha... Sebelumnya saya pernah dikira orang Filipina. Waktu itu yang bilang oma2 di gereja. Well, kalau Filipin, oke lah, secara masih serumpun melayu juga. Tapi ada yang ajaib lagi nih. Awal pertama saya boyongan pindah ke flat Si Parjo setelah beberapa minggu nunut di rumah (mantan) camer, biasa, seperti adat orang timur lah, saya kulo nuwun ke tetangga. Mau yang kebetulan lewat atau lagi di beranda rumah. Saya selalu sempetin say "hi".

Nah, pertamaaaa kali banget, ada cowok nih, tingginya sedengan lah, kulit coklat, rambut hitam, body Joe Taslim. Satu kata, sekseh! Hahahaha.. Dugaan saya dia orang Spanyol. Ternyata bener! Pas aya lagi markir-in si Karina, mendekatlah dia. Langsung dengan bahasa entahlah, dia nyerocos panjang lebar. Setelah merenung beberapa detik, itu BUKAN bahasa jerman. Meskipun saya masih o'on dan ga ngerti kalo orang Jerman ngomong, apalagi kalo cepet ngomongnya. Tapi, saya 100% yakin itu bukan bahasa Jerman apalagi Enggres!!. Lah terus?? Well, akhirnya diberi juga saya kesempatan buat ngomong. Fiuh! "Entschuldigung, ich habe nicht verstanden.. Sie sprechen zu schnell..." kata saya. Eng ing eng, akhirnya dia ngerti deh. Dan ujung2nya, "Are you Spanish?" Woootttt??!??! Uhuuuyyyyy, gila lu ndroooo... Hwasekkk... Dikira orang spanyol mennn... Hahaha... Secara cewek2 spanyol kan sebangsa latin2 amerikun getooo.. Kulit keemasan, rambut hitam tergerai, gigi putih berbaris, dada 36B, perut rata no lemak. Weeewww... Tapi lagi2, dengan jelas dan sepelan mungkin saya bilang, "Nein. Ich komme aus Indonesien".Dan dalam hati, muke gileee! Masak sih wajah saya tidak mencerminkan ke-Indonesia-an?? Hahahaha... 


Monday, July 29, 2013

Jerman, I'm in love! (part 2)

Nah, seperti janji saya di tulisan sebelumnya yang Jerman, I'm in love! (part 1). Kali ini di tengah turunnya hujan, saya bulatkan tekad untuk melanjutkan buah pikir saya tentang kampung halaman Si Parjo ini. Lanjotttt!!!

4. Budaya berkendara
Baiklah! Untuk orang2 di negara saya mungkin ga seberapa penting ocehan saya yang ini. Terlebih mereka2 yang suka bawel kalo disuruh jalan kaki. Jerman, (lagi2 menurut saya) merupakan negara yang amat sangat menghargai pejalan kaki dan pengendara sepeda pancal (lagi blank bahasa baku untuk pancal nih, google ajah yak!). Selalu ada ruas tersendiri untuk pejalan kaki DAN pengayuh sepeda. Hampir di setiap persimpangan jalan ada traffic light yang bisa dipencet kapan saja bagi pejalan kaki yang mau nyebrang. Dan kalo misalnya ada kasus nih, nenek2 nyebrangnya pelannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn banget, sampe lampunya udah keburu merah lagi. Si pengendara pasti dengan sabar, tanpa ngomel apalagi jancuk2, menunggu sampai si nenek tiba dengan selamat di seberang jalan. Coba nang o Suroboyo, minim di-jancuk-i lah! Hahaha... Dan, satu lagi. Disini, lampu kuning itu bener2 untuk bersiap2 ketika hendak hijau, dan mengurangi kecepatan disaat hendak merah. Bukan justru tancap gas takut "keburu merah". The most O'ON attitude pengendara di negara saya.

5. Country for disable and elder people :)
Hal lain yang menarik bagi saya, tanpa ada maksud apa2, tidak jarang saya melihat orang (baik tua atau muda) yang mungkin kurang beruntung dari kita. Satu contoh, mereka harus berkursi roda. Jerman cukup concerned dengan keberadaan mereka. Semua fasilitas umum dilengkapi dengan segala sesuatu untuk mereka yang memerlukan. Toilet selalu ada 3 ruang, Man, Woman and for Disable-People. Di dalam bus atau subway selalu ada space untuk mereka "memarkir" kursi rodanya. Di setiap stasiun hampir selalu ada lift khusus untuk mereka. Bahkan, pemerintah juga memberikan tempat parkir khusus untuk pengendara mobil yang juga disable. Dengan begitu, mereka tidak kawatir kalau2 mereka harus merepotkan orang lain. Sering loh saya ketemu opa2 atau oma berkursi roda, "jalan-jalan", minum kopi, belanja di pasar, SENDIRI. So sweet kan?

6. Beradat "lebih timur" daripada orang timur
Dari dulu saya bingung, kenapa sih ada frase "orang barat". Hahahaha... Udah lah.. Ga penting juga. Untuk opini saya yang satu ini bisa juga salah. "Beradat timur" disini yang saya maksud adalah budaya kata "tolong/please/bitte", "terima kasih/thank you/danke" dan "maaf/sorry/entschuldigung". Pelan tapi pasti, saya merasa, budaya ketiga kata tersebut hampir sirna ditelan orok bumi, terutama di kalangan muda di negara saya. Mentang2 wes konco plek, kalo minta tolong "eh eh...jupukno rokokku...!". Udah manggilnya "eh" tanpa kata tolong lagi. Apalagi kalo habis gondok2an satu sama lain. Susaaahhhhh banget minta maaf. Dan ini satu lagi, buat Anda2 yang berpendidikan tinggi, yang katanya lagi menuntut ilmu untuk jadi sarjana, have you ever said "thank you" to the angkot driver when you get down? Or do you always say short "hi" to the store keeper in Ind*mart or Alf*mart? Tunduk lesu saya. Bahkan ketika saya ingat2 attitude saya sendiri. Memalukan! Fiuh! Disini, saya selalu memperhatikan, di ruang tunggu dokter, ketika masuk bus/subway, ketika masuk supermarket, bahkan ketika berpas2an dengan orang yang tidak dikenalpun, most of the time, people here will say at least "halo". Ketika berpisah pun demikian, selalu bilang "Schoenen Tag noch!" yang artinya have a nice day! Dan itu S E L A L U!!!!! Pernah sekali waktu, saya naik bus, ketika naik otomatis saya ngobrol dengan si pak sopir karena saya harus bayar tiket. Tapi ketika turun, terbawa kebiasan di negara saya, saya main selonong tanpa ba bi bu.. Alhasil, si pak sopir ngeliatin saya. Saya mikir, apa yang salah? Begitu sadar, saya langsung tepok jidat. Bener2 tertohok. Lupa bilang "Tschüss!". Hal sederhana seperti itu yang hampir menghilang atau memang gak pernah ada di bumi pertiwi? Jadi, buat orang kurang kerjaan yang udah baca artikel saya yang ini, boleh lah mulai besok budayakan (kembali) hal2 kecil itu.

Hmmm....puas deh... Meskipun sebenarnya masih banyak hal positif yang saya sadari setelah berada disini. Bukan karena ini negara maju, bukan! Kalau dilihat dari nomor 1 sampe 6. Itu semua dasarnya adalah attitude. Perilaku yang baik dari seseorang bisa membawa perubahan yang baik pula. Percuma negara kaya kalau ngga ber-attitude. Jadinya ya tetep aja alay.

Ahrensburg, 29 Juli 2013. 23.35 (GMT+1)

Photo Courtesy by Google

Jerman, I'm in love! (part 1)

Judulnya catchy banget yak? Hahaha... Tapi emang saya emang bener2 sedang in love. Negaranya, makanan-nya (meski kadang2 aneh), attitude orang2nya. Semuaaaa. Jadi singkat cerita, begini ceritanya.

Pagi tadi pas beres2 rumah, nemu koran lama, koran jerman sih. Jadi saya kurang paham bener kalo baca. Hahaha... Cuma, sedikit2 ngerti lah poin-nya. Yang jelas headline news-nya kurang lebih kalo pake bahasa ibu pertiwi saya, bunyinya kayak gini: "Jerman, negara paling favorit". Nah, berhubung Si Parjo sedang mengais rejeki untuk mendukung kehidupan kami, jadi saya belum bisa tanya, atas polling apa, siapa responden-nya, dll. Bisa aja itu polling ga subjektif. Hehehe.. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat saya ke negara2 lain apalagi negara saya sendiri I N D O N E S I A, yang sedang dalam masa pertumbuhan alias alay abis, saya setuju dengan headline dari koran tersebut.

Nah, bisa dibilang komen2 saya ini nanti bersifat subjektif. Ya iyalah, sok2 banget. Kayak udah pernah keliling dunia ajah. Hahaha... Baru juga seumur jagung merantau di negera orang udah bisa bilang ini itu. Tapiiiiii, seperti yang saya selalu bilang, ini blog saya, curahan hati terdalam saya. Suka suka saya duonk!! Hahaha... Mau saya bilang Mesir favorit kek, Ghana favorit kek, suka suka saya! *whistling*
Banyak hal yang bikin saya kerasan tinggal disini, selain ga perlu LDR lagi dengan Si Parjo, mertua yang super gaul dan terbuka dengan kehadiran menantu yang super pencilakan ini, negara yang bersih teratur dan...ini nih...harap digarisbawahi, orang-orangnya yang lebih "beradat timur" dibandingkan orang timur sendiri.

Membahas tentang negaranya. It makes me to be more in love with Germany. My second homeland.

1. Bersih
Semua orang pasti sudah pada tau, gimana peduli dan sangat disiplinnya bangsa di negara2 maju dalam menjaga kebersihan. Termasuk Jerman. Kamu pasti sudah dianggap edan kalo seenaknya buka kaca mobil terus buang tissue lewat jendela. Kalo Parjo lihat, pasti gini nih komennya: "Is he stupid or what...???!!??". Bahkan untuk secarik kertas kecil, orang lebih memilih untuk nyimpen di kantongnya sampe nemu tempat sampah terdekat. Sangat mudah mendapati tempat sampah.

2. Peduli Sehat
Sebelum saya menginjakkan kaki di tanah air Si Parjo ini, saya pergi ke dokter HANYA ketika saya sakit. Orang pasti mikir. Ya iyalah. Buang2 duit aja lo ke dokter pas sehat walafiat. Well, saya belum ada setengah tahun disini, tapi saya sudah nge-date dengan dokter mata, dokter kulit, dokter gigi, dokter umum dan karena saya perempuan (bukan perempuan jadi2an) jadi saya juga ngedate ama dokter ahli kandungan. Soon, ke dokter penyakit dalam dan THT. Apa karena saya merasa tidak baik2, bukan! Cuma sebatas kontrol. Cek en ricek apakah semua baik2 saja. Tapi karena saya punya kartu ajaib yang tinggal saya tunjukin pas kontrol dan ga perlu bawa uang cash. Kalaupun mesti bayar, ga perlu repot2 atau kawatir uangnya kurang, soalnya kita bisa transfer ke rekening rumah sakit atau si dokter. Yup! Mereka tinggal kirim invoice kerumah, kita transfer, DONE! Tapi beberapa kali saya ke dokter, saya tidak perlu bayar apa2. Kecuali ada resep yang harus ditebus. Itu baruuuuu! Bayar! Boleh ga bayar, asal mau masuk bui. Disini saya melihat tingkat kepedulian yang tinggi atas kesehatan. Warga sini tidak ragu gajinya dipotong sekian persen untuk kebutuhan asuransi kesehatan. Seneng yah yang kerja di asuransi disini, ga perlu sibuk "prospek" cari nasabah. Toh itu untuk kebaikan kita juga. Mudah2an rakyat di negeri dongeng segera pula disadarkan pentingnya asuransi kesehatan. Dan pihak asuransi juga, ga usah lah terlalu ribet kalau mau cairin polis. Kalo deadline bayar aja dikejar2, tapi ntar kalo pingin complain polis ada aja alaesannya (pengalaman pribadi). Semua itu emang balik ke attitude. Harus sama2 jujur.

3. Pajak
Hampir semua orang taat bayar pajak. Hampir 40% pendapatan orang bekerja masuk ke negara untuk pajak! Cetar banget kan? Hahaha... saya inget dulu semasa masih bekerja mengabdi pada nusa dan bangsa, disuruh bayar pajak 5% aja semua udah pada komplain. Hahaha.. Kalo menurut saya, ga masalah lah 40% toh seimbang dengan semua pelayanan publik-nya. Transportasi lancar dan aman, jalan raya ga bolong2, fasilitas umum rapi dan bersih. Coba, di negara saya semua jujur bayar pajak dan petugas pajaknya juga jujur, pasti bisa lah Indonesia jadi negara beneran bukan negeri dongeng. Tapi, kapannnnnn??? Hahaha...

4. bersambung....

Wednesday, July 17, 2013

My face is on vemale.com!!!

Ahrensburg, 17 Juli 2013

Pagi ini, seperti biasa, sebelum memulai aktivitas sehari-hari, diawali menyiapkan bekal makan siang si Parjo. Ga ribet sih, cuma 2 pisang, 2 apel, 1 cup besar yogurt, sepotong jahe segar, permen jahe, plus burger sayur. Tiap hari cuman itu. Hehehe.. He's the simpliest man I've ever met. Setelah itu, berhubung saya ini gila sos-med, jadi pasti nyempetin buka semua akun sosmed saya. Hahaha... Tapi hari ini ada yang spesial, pas saya buka Facebook, ada beberapa notifications. Ada satu yang menarik. Seorang sahabat baik saya mem"posting" sebuah link di wall saya. Sebuah artikel dari sebuah website yang temanya semua tentang wanita, kesehatan, cinta, dll. Dia editor disana, cukup senior sih menurut saya. Nah! Ternyata, ada foto saya disana!! Huahaha... Untuk ukuran orang super narsis kayak saya, pastinya seneng bukan kepalang. Setelah beberapa detik membaca, dia (si sahabat saya ini) menulis tentang bagaimana beberapa postingan saya telah menginspirasi dia. Ge-er bukan kepalang saya. Hahaha... Oleh karena itu, saya juga ingin mengabadikan artikel itu di blog pribadi saya ini. I feel so honored!!! Dan istimewanya lagi, dia memposting tepat sehari setelah ulang-bulan hari bahagia saya dengan si Parjo. Thanks to Agatha Yunita! Kurang lebih begini dia menulis:

Original Source: Hal Sederhana Yang Disebut Cinta by Agatha Yunita (vemale.com)

HAL SEDERHANA YANG DISEBUT CINTA
Vemale.com - Oleh: Agatha Yunita
Dulu, rasanya yang terbayang adalah yang muluk-muluk saat mendengarkan kata 'cinta'. Mungkin terpengaruh dari tontonan televisi, di mana disebut cinta kalau sudah melewati tidak diijinkan orang tua terlebih dahulu, kemudian tiba-tiba menemukan jalan yang bisa mempersatukan keduanya. Disebut cinta juga, kalau mendadak bertemu di stasiun kereta, kemudian jatuh cinta. Atau, disebut cinta kalau tadinya benci setengah mati, kemudian diam-diam suka.
Ternyata, bukan itu yang namanya cinta!
Kalau selama ini bayangan orang melambung yang megah-megah soal cinta, pantas saja akhirnya jarang di antara mereka yang bisa bertahan bahagia. Kebanyakan malah jatuh terpuruk, dan menemukan hati yang terluka. Singkat kata, mengaku TIDAK BAHAGIA. TIDAK DICINTAI.
Terlalu berharap. Mungkin itulah yang sebenarnya terjadi pada orang yang jatuh cinta. Semua bayangan yang ada di benak itu membuat buta, sampai-sampai cinta yang sebenarnya tak pernah disadari.
Dan kalau mata saya terbuka melalui sebuah postingan teman, saya juga ingin semua mata terbuka akan apa itu cinta sebenarnya.
Membuka sebuah akun Facebook milik teman, nyaris setiap hari postingannya diisi dengan hal-hal yang sederhana. Hal-hal kesehariannya, entah membuat kue, entah pergi ke pasar, yang jelas hampir semua wanita melakukan hal yang sama.
Lantas apa yang istimewa dari postingannya?
Beberapa postingan tersebut menceritakan bagaimana suami dan ibu mertuanya meninggalkan beberapa catatan kecil atau hadiah-hadiah kecil untuknya, tidak mahal. Mungkin hanya berbekal tepung terigu dan sedikit adonan cokelat saja sudah jadi hadiah buatnya. Terkadang juga disertai dengan bunga dan setoples atau sepiring kue. Sederhana kan? Rasanya seperti hal yang biasa.
Courtesy Petronela Schindowski Courtesy Petronela S.

Iya, awalnya saya juga berpikir demikian. Sampai pada akhirnya saya berpikir, kenapa itu jarang ditemui di negri sendiri yang katanya memegang erat adat ketimuran dan tahu tata krama ini? Kenapa hal sekecil itu justru gengsi dilakukan? Gengsi menunjukkan kasih sayang, gengsi menunjukkan cinta.
Ah, coba saja amati bagaimana saat anak mantu dan mertua bertemu, di depan semua orang bisa saja bersikap baik-baik. Namun, kalau sudah saling memunggungi, yang ada adalah bahan gosip, saling menjelekkan satu sama lain. Akui saja bahwa itu masih terjadi di sekitar kita. "Menantuku itu pemalas, kerjanya hanya main BB saja..." kemudian suatu kali disambung oleh si menantu, "Mertuaku itu bawel, kerjaannya ngurusin rumah tangga orang saja..."
Di sana, di keluarga 'baru' sahabat saya. Perlakuan mertua sangat hangat pada menantu, diam-diam memberikan kejutan setangkai bunga, diam-diam sudah membuatkan sepiring kue. Demikian juga perlakuan suami pada istri dan sebaliknya, sederhana namun tetap manis. Harganya mungkin tidak bisa disetarakan dengan harga mobil mewah atau rumah. Tetapi, perlakuan setiap hari yang seperti itu membuat rumah tangga jadi adem ayem. Membuat diri sendiri merasa dicintai. Membuat kebahagiaan itu rasanya mutlak, dan ya inilah yang disebut dengan bahagia. Yang mirisnya, jarang ditemui di tanah air.
Dan kalau lewat hal-hal kecil yang bisa membuat orang merasa dicinta itu orang bisa bahagia, kenapa sih kita tidak mulai melakukannya? Kenapa kita harus berpikir bisa membelikan suatu barang mewah baru membuat orang bahagia?
Buang semua khayalan muluk-muluk yang justru membuat mata buta akan cinta. Cinta itu dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap harinya. Cinta itu dimulai dari hal-hal remeh yang mungkin gengsi untuk dilakukan. Cinta itu dimulai dari ucapan terima kasih atau maaf. Cinta itu dimulai dari senyuman pagi atau pelukan pada yang terkasih. Cinta itu mudah sekali didapatkan dari hal-hal kecil, dan murah sekali mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan. Syaratnya satu, jangan pejamkan mata lagi dan lakukan setiap hal kecil dengan cinta.
Iya, tepat seperti kata Mother Teresa, dan mungkin itulah yang tepat menerjemahkan kalimat"We cannot do great things, but we can do small things with great love."~ Mother Teresa (vem/bee)